Oleh: Ruslan T. Sangadji
Sekretaris Panitia Daerah Munas XI KAHMI

Palu, dalam bahasa Indonesia berarti martil. Mungkin dengan begitu, orang bisa saja beranggapan bahwa masyarakat di kota ini identik dengan karakter yang keras. Tapi ternyata, begitu kita menginjakkan kaki di kota yang dikenal dengan sebutan Bumi Tadulako ini, kesan kasar itu tak terlihat sama sekali.

Masyarakatnya begitu ramah, sangat bersahabat dan terkenal menjunjung tinggi sikap setia kawan. Paling tidak, itulah yang diakui beberapa tamu yang berkunjung ke kota yang berpenduduk hampir 500 ribu jiwa ini.

Entah dari mana nama itu terinspirasi menjadi nama kota. Belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan kenapa kota ini diberi nama Palu. Tapi, dari penuturan beberapa orang tua, Palu itu adalah nama pohon yang dulu banyak tumbuh di pesisir dan sekitar muara sungai yang membelah kota ini.

Konon, ketika itu, para pelaut dan pedagang asal Bugis, Makassar dan Mandar yang hendak berniaga ke daerah ini, selalu berisitirahat di bawah rindangnya Pohon Palu itu. Bahkan, mereka membuat pondok kayu untuk menginap di bawahnya. Tapi, pohon palu itu kini telah musnah, tidak diketahui lagi jenis pohonnya seperti apa.

“Jadi, ketika para pelaut dan pedagang itu ditanya hendak ke mana, mereka akan menjawab ke Palu. Nah, dari situlah sehingga nama Palu pun menjadi nama kota ini,” kata Tjatjo Tuan Syaikhu, seorang budayawan di Palu yang juga sesepuh KAHMI Sulteng.

Dulunya, Palu adalah kota kecil sebagai pusat Kerajaan Palu. Daerah ini merupakan peninggalan penjajahan Belanda yang terbagi atas onder Afdeling (wilayah kekuasaan), dengan tiga landschap yakni, Landschap Palu terdiri dari Distrik Palu Timur, Distrik Palu Tengah dan Distrik Palu Barat, Landschap Kulawi dan Landschap Sigi Dolo.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1950, Pemerintah Pusat kemudian menetapkan Wilayah Daerah Sulawesi Tengah dengan Ibukota Poso, sedang Palu hanya tempat kedudukan Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) setingkat Wedana.

Di tahun 1957, status Kota Palu menjadi Ibukota Keresidenan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah, terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 13 tahun 1964, dengan Kota Palu sebagai Ibukota Provinsi Dati I Sulawesi Tengah.

Tahun 1978 melalui PP Nomor 18, Kota Palu ditetapkan menjadi Kota Administratif dan selanjutnya melalui UU Nomor 4 tahun 1994 berubah status menjadi Kotamadya Dati II Palu dengan Wilayah Kota Administratif Palu. Kini, Kota Palu terdiri dari delapan Kecamatan yaitu, Kecamatan Palu Utara, Palu Timur, Palu Barat, Palu Selatan, Tatanga, Mantikulore, Ulujadi dan Kecamatan Tawaili.

Wilayah-wilayah ini, dipisahkan oleh sebuah sungai yang airnya mengalir deras dengan empat buah jembatan panjang berukuran sekitar 500 meter. (seharusnya ada lima jembatan, tetapi jembatan yang pernah menjadi ikon Kota Palu, hancur disapu gelombang tsunami 28 September 2022).

Dulunya, Kota Palu begitu sepi. Dapat dipastikan tamu tidak akan betah kalau berlama-lama menginap di Palu. Tapi kini, kota ini benar-benar sudah berubah. Kota ini sudah mulai berdandan. Cafe dan resto tumbuh di mana-mana. Hotel dan penginapan juga tumbuh bak jamur di musim penghujan. Pokoknya, dari waktu ke waktu kota ini terus berkembang. Ke mana-mana sangat mudah dijangkau dan hanya dalam hitungan menit, karena tanpa kemacetan seperti di kota-kota besar di Indonesia.

Kota ini juga sangat indah. Ada laut, teluk, gunung dan sungai yang membelah kota. Lantaran itu, Ketua MW KAHMI Provinsi Sulawesi Tengah yang pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu ketika itu, Andi Mulhanan Tombolotutu menyebutnya dengan Kota Empat Dimensi.

ADA PEJABAT, UTA DADA, AYAM BAKAR PALUPI DAN SARABA

Kalau sudah berada di Palu, di mana kita akan menghibur diri, bersantai dan bersantap malam. Pertanyaan itu selalu keluar dari mulut tamu yang datang ke Palu. Dulu, di akhir tahun 1990-an, memang terasa sulit menjawab semua pertanyaan itu. Tapi tidak untuk saat ini.

Jika kita mau makan malam, di Kota Palu banyak menyediakan restoran kelas bawah hingga kelas atas. Rata-rata restoran-restoran itu menyediakan menu ikan bakar, cumi bakar dan goreng, kepiting, udang, lobster dan macam-macam sea food yang segar. Sebut saja misalnya Restoran Kampung Nelayan, Restoran Taman Ria, Restoran Silae Beach, RM Sidrap dan banyak rumah makan lainnya.

Kalau kita mau menyantap hidangan ala Eropa, Restoran Maestro adalah jawabannya. Pemilik restoran ini adalah warga keturunan Jerman. Dan kalau kita mau makan malam sambil menikmati terangnya Kota Palu di waktu malam, Cafe Resto Doda D’Calora, Puri Watutela dan Villa Sutan Raja yang berada di atas bukit, menjadi tempat terbaik untuk itu.

Lantas, ke mana kalau kita mau menikmati menu tradisional. Dengan kendaraan dalam jarak yang hanya sekitar 20 menit ke arah barat, kita bisa mencoba makanan khas Kaili— etnis asli di Palu —yang terletak di Dusun Padanjese, Kelurahan Donggala Kodi. Di sini semuanya serba tradisional.

Warga setempat menyediakan menu seperti Uta Dada (mirip opor ayam) yang disantap dengan ketupat. Tempatnya begitu bersih sehingga tidak mengganggu selera makan. Dapat dipastikan, orang yang makan malam di tempat itu akan berkeringat, karena makanannya sedikit pedas.

Agak sedikit keluar dari Kota Palu di arah selatan, kita bisa menikmati menu ayam bakar rica yang dihidangkan dengan ketupat dan uta dada. Lokasinya berada di sudut pasar Biromaru. Uniknya, tempat ini hanya dibuka dua kali seminggu, malam Jumat dan malam minggu. Sejarahnya, pasar Biromaru itu hanya dibuka sekali seminggu. Para pedagang mulai berdatangan membuka lapak-lapak sejak Kamis sore, sehingga malamnya mereka harus makan. Warga setempat kemudian membuka warung makan yang menunya hanya ayam bakar rica-rica, uta dada dan ketupat. Jangan harap kita akan menemukan nasi di tempat itu.

Kalau mau yang dekat, ada ayam bakar Palupi, yang berada di Kelurahan Palupi. Sama rasa dan kualitasnya dengan ayam bakar Biromaru.

Setelah menyantap makan malam, kita masih boleh bersantai di bibir Teluk Palu. Sebuah kawasan mirip Boulevard di Manado atau Losarinya Makassar ini, menjadi pilihan bersantai di waktu malam. Di sini banyak “Pejabat” atau Pedagang Jagung Bakar Talise dengan minuman khas mirip wedang jahe yang diberi nama Saraba. Kawasan ini memanjang sekitar 5 kilometer. Tetapi suasana seperti itu sudah berubah pasca kawasan itu diterjang gelombang tsunami. Jadi, kalau mau lihat bekas tsunami, ada di pantai ini.

Durian, akan sangat mudah kita dapatkan. Cukup bergerak sedikit ke kawasan Hutan Kota Palu, di situ ada pusat jajanan durian. Segala macam jenis durian ada di situ. Mulai dari durian kampung, durian monthong dan Musang King, ada di tempat itu. Durian ini sudah sangat terkenal hingga ke manca negara. Jalan kaki dari situ, kita juga bisa menikmati beberapa jajanan lain seperti pisang goreng aneka jenis penganan lainnya.

DPRD TINGKAT III

Ribut tapi mengasyikan….. obrolan ngalor-ngidul, serius, ringan, ngoceh, diskusi dengan berbagai topik. Mulai dari dari isu di tingkat Rukun Tetangga, sampai soal isu internasional yang mereka tonton di tivi dan baca di media. Ah….Semua hal dibicarakan di sini. Di sini juga mereka berdebat. Bersitegang. Bercanda. Dan macam-macam hal. Oh iya, di sini juga mereka bicarakan soal rencana aksi unjukrasa.

Orang-orang mengistilahkannya dengan DPRD Tingkat III. Karena di sini berkumpul para birokrat, Gubernur, bupati, wali kota, politisi, akademisi, pengusaha, kontraktor, wartawan, polisi, tentara, lawyer, jaksa, hakim sampai pengangguran. Di sini juga ada beragam orang dengan latar belakang agama dan kepercayaan. Ada Islam, Kristen, Budha, Hindu, Kong Hu Cu dan macam-macam, berkumpul di sini.

Mereka menyatu dan tidak kenal perbedaan-perbedaan itu. Tak ada sekat-sekat dan tak ada orang dilihat dari kelas sosialnya. Dan tak ada dendam di sini. Semuanya damai.

Ya… itulah suasana warung kopi (warkop) di Palu. Ada warung Sudimari 2 di Jalan Masjid Raya, Ada Aweng di beberapa sudut jalan ada warung Harapan Baru di Jalan Pramuka, dan banyak sekali warung kopi di Palu. Entahlah, apakah karena hoki atau apa, semua warkop itu dikelola oleh mereka yang masih saudara kandung.

SALAM DAN JABAT TANGAN

Yang paling berkesan ketika kita datang ke warkop-warkop di Palu, seperti telah menjadi suatu konsensus bersama meski tak tertulis, tapi wajib bagi kita, harus mengucapkan salam (Assalamu’alaikum atau selamat pagi) lalu disertai dengan berjabatan tangan. Kita harus berjabat tangan dengan semua pengunjung. Nah boleh dibayangkan kalau pengunjung ada 50 orang. Capek bukan….???

Dan lebih terlihat lagi persaudaraan itu, karena bagi yang memiliki uang lebih, tak peduli siapa orang itu, mereka akan membayar kopi yang diminum para pengunjung lain. Itu juga sudah menjadi semacam kesepakatan bersama. Tapi itu bukan sogokan atau pun amplop.

Entahlah, siapa yang memulai tradisi salam, jabat tangan dan bayar kopi untuk semua di warkop-warkop Palu itu. Tapi yang pasti, itu sudah berlangsung sejak lama. “Oh tradisi itu sudah ada sejak tahun 1970-an,” kata Bustamin Nongtji, sesepuh KAHMI Sulteng.

Kesan lain yang kita temukan di warkop-warkop di Palu, adalah istilah kopi setengah. Beberapa pelanggan hanya memesan kopi separuh gelas. Jadi, kalau harga kopi segelasnya Rp15.000, mereka hanya membayar Rp7.500. Tapi tunggu dulu, setelah meminum beberapa teguk, pemesan kopi setengah itu meminta pelayan menambahkan air panas dan gula. Maka jadilah kopi segelas. Tapi, bayarnya tetap separuh. Sebuah strategi mendapatkan segelas kopi dengan bayaran separuh harga.

Maka, selamat datang Peserta Munas XI KAHMI di Kota Palu. Selamat menikmati pesona Kota Palu dan selamat menikmati semua kopi Palu yang nantinya membuat Anda lupa kembali ke kampung masing-masing. (*)

Login

Welcome to Typer

Brief and amiable onboarding is the first thing a new user sees in the theme.
Join Typer
Registration is closed.